TUGAS 1
Rabu,
25 November yang lalu saya dan kelompok saya (saya, Arnindya Apriliana
Nimara, Rifa Fachrunni, dan Wahyu Bhakti Nugroho) melakukan perjalanan
ke Museum Bank Indonesia yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No.3
Jakarta Barat (depan stasiun Beos Kota) untuk menyelesaikan tugas
kelompok mata kuliah Ilmu Budaya Dasar atau biasa disebut IBD.
Selasa - Jumat : 08.00 - 15.30 WIB
Sabtu - Minggu : 08.00 - 16.00 WIB
Senin & Hari Libur Nasional Tutup
Setelah membeli tiket masuk dan menitipkan tas kami, kami mulai memasuki bagian museum. Pertama kita akan menemui suatu ruang yang bernama kamar transisi. Sebelum memasuki kamar transisi terdapat tirai besar dan megah yang kita lalui, itulah tanda kita telah memasuki ruang transisi/play motion. Ruangan ini menerapkan teknologi hologram tinggi dengan desain koin koin terbang. Dari sini saja saya sudah sangat tertarik untuk menjelajahi museum bertema ekonomi ini.
Selanjutnya kita akan dituntun oleh lorong kecil menuju ke ruang teater yang berukuran kecil. Sayangnya saat kami kesini sedang tidak ada pemutaran film.
gbr. jadwal pemutaran film
Selanjutnya kita memasuki ruang pra-bank indonesia. Ruangan ini menceritakan banyak aktivitas perdagangan selama pra-eropa mendarat di Indonesia, dimana rempah-rempah indonesia ini sudah ber abad abad terkenal dan dengan bantuan para pedagang arab rempah-rempah kita disalurkan sampai ke Venesia hingga Eropa. Sehingga rempah-rempah ini senilai dengan harga emas dan inilah yang mendorong para pelayar dari Eropa berloma-lomba datang ke Indonesia untuk menguasai komoditas utama bangsa ini dan dari sanalah cikal bakal lahirnya perbankan di Indonesia.
Selanjutnya kami ke ruang pengantar sejarah Bank Indonesia dimana ada beberapa foto-foto penjelajah dunia yang pernah singgah di Indonesia yaitu;
A. Marcopolo
B. Laksamana Cheng Ho
C. Juan Sebastian Del Cano
D. Alfonso d'Albuquerque
E. Cornelis de Houtman
F. Sir Henry Midellton
Informasi tentang perkembangan Bank Indonesia ini dapat diakses melalui mesin informasi ber-touchscreen dan macam-macam diorama tiga dimensi yang benar-benar menggambarkan keadaan saat itu hingga masa dimana negeri ini mengalami krisis moneter sehingga banyaknya pemilik uang yang dalam waktu bersamaan menarik dananya se-segera mungkin yang dituangkan dalam hiruk pikuknya petugas BI mengangkat telepon.
Lalu kita ke serambi samping Bank Indonesia. Serambi ini masih sangat terawat sampai saat ini. Dari panel-panel pintu yang menggunakan kayu jati sampai material penutup lantai.
Setelah dari serambi kita melanjutkan perjalanan, sampai mata kami tertuju pada ruang penyimpanan emas. Walaupun ini replika, tetapi sangat terlihat seperti asli lhooo. Kami pun banyak mengambil foto dan selfie di ruangan ini karena konsep ruangan yang sangat menarik.
Selanjutnya kita memasuki ruang Numismatik. Disini kita akan menemukan informasi tentang sejarah numismatik dan mata uang Indonesia melalui booth multimedia. Kita dapat melihat uang uang jaman dahulu menggunakan bantuan kaca pembesar. Nah setelah dari sini kita ke kios cinderamata. Disini kita dapat membeli merchandise merchandise yang berhubungan dengan Museum Bank Indonesia, harga barang-barangnya termasuk murah sehingga kita bisa membeli banyak cindera mata untuk dibawa pulang.
Itulah perjalanan kami di Museum Bank Indonesia, setelah keluar dari toko cindera mata kami meminta tolong kepada Mas-mas engineering untuk mem-fotokan kami. Inilah foto kami
Terimakasih telah membaca perjalanan Museum Bank Indonesia kami :)
http://studentsite.gunadarma.ac.id/index.php/tugas/index
Kami
berangkat dari kost saya (Margonda Residence) pada pukul 11.30 siang.
Rencana nya kami ingin menggunakan commuter line sebagai sarana
transportasi menuju Museum Bank Indonesia. Kami menaiki commuter line di
Stasiun UI menuju stasiun Jakarta Kota, tetapi sayangnya kami salah
menaiki kereta.. kami malah menaiki kereta jurusan tanah abang. Setelah
bertanya kepada salah satu penumpang akhirnya kami turun di Stasiun Duri
dan melanjutkan perjalanan ke Museum menggunakan layanan Grabcar. Ternyata menaiki Grabcar tidak
semahal yang saya kira, tarif dari St.Duri sampai ke Museum Bank
Indonesia adalah Rp 15.000,-. Kami patungan Rp 5.000,- per orang.
Setelah
itu sampailah kami di Museum Bank Indonesia. Mata kami semua langsung
tertuju pada gedung museum yang megah, kokoh, dan memiliki desain
arsitektur yang bersejarah dan mewah. Saya pikir tidak akan ada museum
dengan desain menarik seperti ini, ternyata di wilayah Kota sangat
banyak museum dengan desain arsitektur yang menarik mata.
Setelah
terkagum-kagum dengan bangunan luar museum, kami pun memasuki museum.
Semua pengunjung harus melalui security check untuk menjaga keamanan
museum. Kami pun tidak diperkenankan untuk membawa tas, payung, makanan
dan minuman, hewan peliharaan, dan lain lain. Hal ini bertujuan untuk
menjaga kebersihan, kelestarian, dan keamanan museum. Pada hari itu
pengunjung tidak terlalu banyak. Mayoritas pengunjung Museum Bank
Indonesia adalah para pelajar dan mahasiswa.
Tiket Masuk
Harga
tiket masuk Museum Bank Indonesia menurut saya sangatlah murah, yaitu
Rp 5.000,- menurut saya harga tiket nya sangat sebanding dengan view dan
pengetahuan yang kita dapatkan di dalam museum. Setelah mengetahui
harga tiket yang relatif murah, kami semua jadi ingin menjelajah ke
museum museum lainnya yang ada di Indonesia.
Waktu Kunjungan
Sabtu - Minggu : 08.00 - 16.00 WIB
Senin & Hari Libur Nasional Tutup
Setelah membeli tiket masuk dan menitipkan tas kami, kami mulai memasuki bagian museum. Pertama kita akan menemui suatu ruang yang bernama kamar transisi. Sebelum memasuki kamar transisi terdapat tirai besar dan megah yang kita lalui, itulah tanda kita telah memasuki ruang transisi/play motion. Ruangan ini menerapkan teknologi hologram tinggi dengan desain koin koin terbang. Dari sini saja saya sudah sangat tertarik untuk menjelajahi museum bertema ekonomi ini.
Selanjutnya kita akan dituntun oleh lorong kecil menuju ke ruang teater yang berukuran kecil. Sayangnya saat kami kesini sedang tidak ada pemutaran film.
gbr. jadwal pemutaran film
Selanjutnya kita memasuki ruang pra-bank indonesia. Ruangan ini menceritakan banyak aktivitas perdagangan selama pra-eropa mendarat di Indonesia, dimana rempah-rempah indonesia ini sudah ber abad abad terkenal dan dengan bantuan para pedagang arab rempah-rempah kita disalurkan sampai ke Venesia hingga Eropa. Sehingga rempah-rempah ini senilai dengan harga emas dan inilah yang mendorong para pelayar dari Eropa berloma-lomba datang ke Indonesia untuk menguasai komoditas utama bangsa ini dan dari sanalah cikal bakal lahirnya perbankan di Indonesia.
Selanjutnya kami ke ruang pengantar sejarah Bank Indonesia dimana ada beberapa foto-foto penjelajah dunia yang pernah singgah di Indonesia yaitu;
A. Marcopolo
B. Laksamana Cheng Ho
C. Juan Sebastian Del Cano
D. Alfonso d'Albuquerque
E. Cornelis de Houtman
F. Sir Henry Midellton
Informasi tentang perkembangan Bank Indonesia ini dapat diakses melalui mesin informasi ber-touchscreen dan macam-macam diorama tiga dimensi yang benar-benar menggambarkan keadaan saat itu hingga masa dimana negeri ini mengalami krisis moneter sehingga banyaknya pemilik uang yang dalam waktu bersamaan menarik dananya se-segera mungkin yang dituangkan dalam hiruk pikuknya petugas BI mengangkat telepon.
Lalu kita ke serambi samping Bank Indonesia. Serambi ini masih sangat terawat sampai saat ini. Dari panel-panel pintu yang menggunakan kayu jati sampai material penutup lantai.
Setelah dari serambi kita melanjutkan perjalanan, sampai mata kami tertuju pada ruang penyimpanan emas. Walaupun ini replika, tetapi sangat terlihat seperti asli lhooo. Kami pun banyak mengambil foto dan selfie di ruangan ini karena konsep ruangan yang sangat menarik.
Selanjutnya kita memasuki ruang Numismatik. Disini kita akan menemukan informasi tentang sejarah numismatik dan mata uang Indonesia melalui booth multimedia. Kita dapat melihat uang uang jaman dahulu menggunakan bantuan kaca pembesar. Nah setelah dari sini kita ke kios cinderamata. Disini kita dapat membeli merchandise merchandise yang berhubungan dengan Museum Bank Indonesia, harga barang-barangnya termasuk murah sehingga kita bisa membeli banyak cindera mata untuk dibawa pulang.
Itulah perjalanan kami di Museum Bank Indonesia, setelah keluar dari toko cindera mata kami meminta tolong kepada Mas-mas engineering untuk mem-fotokan kami. Inilah foto kami
Terimakasih telah membaca perjalanan Museum Bank Indonesia kami :)
http://studentsite.gunadarma.ac.id/index.php/tugas/index






Komentar
Posting Komentar