FORTOFOLIO 1
Dibalik Hati Seorang Anak
Aku Wisnu umurku 15 tahun. Aku duduk dikelas 3 SMP. Aku hidup ditengah
keluarga sederhana yang bahagia. Aku memiliki 2 orang kakak. Mereka
berdua sedang meneruskan sekolah di Bandung. Tapi kini keadaan sudah
berubah, disaat aku duduk dikelas 2 SMP. Kejadian itu bermula saat
ayahku kerja dinas di Surabaya. Ternyata disana ayahku memeiliki teman
wanita lain. Hal itu diketahui ibuku saat ayah pulang ke rumah. Ibuku
membuka kotak masuk telepon genggam ayahku, lalu ibuku melihat pesan
dari wanita itu. Pesan itu bukan seperti pesan kepada teman biasa, tapi
lebih dari itu. Mulai saat itu ibuku curiga dengan ayahku. Lalu ibuku
bertanya pada ayahku, “Pesan dari siapa ini?”, ujar ibuku. Namun ayahku
membalasnya dengan nada marah, “itu hanya temanku.” Disinilah titik
konflik mulai terjadi.
Semenjak saat itu ayahku menjadi sangat temperamental. Ibuku selalu
dimarahi ayahku setiap ibuku bertanya tentang perempuan itu. Tapi
menurutku perbuatan ibuku benar memang siapa sih yang tidak curiga jika
suaminya memiliki teman wanita yang semesra itu? Tapi ayahku tetap saja
begitu setiap ibuku mempertanyakan hal itu.
Disaat mereka bertengkar ingin hati melerainya tapi apa daya aku
hanyalah anak kecil yang mungkin masih bias dibilang Bau Kencur. Tapi sungguh disetiap orang tuaku bertengkar hati terasa sakit bahkan terkadang aku menangis karena hal itu.
Setelah ada beberapa kali pertengkaran, akhirnya ibuku memberanikan
diri menelepon wanita itu dengan telepon genggamnya, untuk menyelesaikan
masalah. Ibuku hanya memiliki tujuan ingin tahu siapa wanita itu
sebenarnya. Setelah tersambung ibuku bertanya pada wanita itu kamu
siapanya kakak saya? Karena saat itu ibuku sedang berpura-pura menjadi
adik dari ayahku. Tapi jawaban yang diterima sama seperti jawaban ayahku
yaitu hanya teman biasa. Kecurigaan ibuku telah hilang setelah
mendengar jawaban itu.
Beberapa hari kemudian ayahku menelepon ibuku dan memaki-maki ibuku.
Ternyata wanita itu mengadu kepada ayahku. Aku sedikit mendengar
percakapan ayah dengan ibuku. Saat mendengarnya hatiku sangatlah kesal
karena kata-kata yang keluar dari ayahku.
Sebulan kemudian ayahku pulang kerumah. Tapi hal yang tidak diinginkan
terjadi lagi namun lebih parah. Ibuku dianiaya oleh ayahku. Aku tidak
melihat kejadian itu karena saat itu aku sedang bersekolah. Setelah
pulang sekolah ibu menceritakannya kepadaku. Disaat itu pula aku tidak
habis pikir mengapa ayahku bisa melakukan hal yang tidak bermoral itu.
Namun aku hanya bisa diam akan kejadian itu karena hal itu adalah urusan
mereka bukan urusan anak-anak sepertiku. Lalu tiga hari kemudian ayahku
pergi untuk kerja dinas kembali.
Tiga bulan telah berlalu. Dibenakku terpikir mungkin sudah tidak ada
pertengkaran lagi. Tapi hal yang terjadi sangat bertolak belakang dengan
benakku. Saat ayahku pulan ke rumah ayahku berpikir bahwa ibuku
selingkuh dengan laki-laki lain. Padahal hal itu tidak sama sekali
dilakukan ibuku. Ayahku sekejap terbakar kemarahan dan menganiaya ibuku
lagi untuk yang kedua kali. Hatiku sangat terpukul bahkan aku pun
menangis mendengar hal itu. Disaat itulah aku benar-benar membenci
ayahku.
Lagi dan lagi hal itu terjadi lagi selang dua bula dari penganiayaan
untuk yang kedua kalinya. Dengan permasalahan yang sama Ayanhku
berperasangka bahwa ibuku selingkuh dengan laki-laki lain. Ibuku
dianiaya lagi untuk ketiga kalinya. Disaat itu aku tidak bias diam. Aku
marah kepada ayahku. Dan aku balas memaki-makinya. Memang tidak
sepantasnya aku melakukan hal itu. Tapi perbuatan ayahku sudah
keterlaluan.
Setelah kejadian itu ibuku menelepon kakek dan nenekku di kampong.
Ibuku berkata, “mah, maafkan aku. Aku tidak bias menjalankan pernikahan
dengan baik. Lalu ibuku bercerita semua hal yang terjadi kepada ibuku
kepada nenekku. Dissat aku mendengar percakapan antara mereka aku
menangis menahan sakit hatiku.
Setelah semua kejadian itu usai, Ibuku menggugat cerai ayahku karena
kejadian yang lalu. Aku membaca surat gugatan itu sungguh hatiku remuk,
hancur tak karuan. Walupun aku sangat benci dengan ayahku tetapi disisi
lain aku juga menyayanginya. Tapi apa boleh buat itu sudah keputusan
mereka. Kami para ank tidak bias berbuat apa-apa lagi untuk
mempersatukan mereka kembali. Namun aku memiliki pesan untuk para orang
tua jangan pernah kalian memikirkan diri kalian sendiri tapi pikirkanlah
anak-anak kalian. Walaupun masih anak-anak tapi mereka pun memiliki
hati dan perasaan yang lebih sensitive dibandingkan para orang tua. http://studentsite.gunadarma.ac.id/index.php/tulisan/index
Komentar
Posting Komentar